Peliknya Bekerja 8 Jam Hingga Lembur, Hingga Kerap Menciptakan Kehidupan Tergusur

Posted by Ganas003 on 20.48 in

Kerja 8 jam sehari? Itu wajib. Pulang on time? Itu mitos. Lembur? Tak tertulis tetapi dijalani, bahkan ehm… hari libur sekalipun. Memang begitulah Bung yang namanya bekerja. Intinya ini bukan ibarat sekolah yang mana jam pulang jadi penentu, Bung boleh pulang atau tidak. Tapi selesai atau tidaklah yang menjadi patokan.


Cakrawala pagi belum terbuka sinarnya, Bung sudah berkemas-kemas untuk berangkat. Karena lebih baik tiba pagi dari pada terlambat. Bagi sobat Bung, melihat kesibukan Bung selama ini, menjadi penanda bila Bung ialah tipikal pekerja keras yang bermental baja meskipun work flow sangat acak-acakan bagi kesehatan. Dikala masih muda, kopi hanya menjadi konten media umum biar lebih hype. Sekarang kopi menjadi senjata ampuh untuk melawan rasa kantuk Bung.


Pahit ialah hal yang Bung rasakan sebenarnya. Melihat sobat mengucap salut wacana pengabdian dan kinerja bung selama ini. Mungkin ia hanya melihat enaknya saja, sedangkan yang tidak yummy Bung selalu simpan dalam-dalam. Lembur pun dijalani dengan rasa bahagia (kelihatannya), karena Bung suka menggunakan fitur instagram stories guna lembur terlihat lebih seru dan mengundang apresiasi semu dari follower Bung. “Gila bosku masih kerja aja, salut!” Begitu kan pesan yang selalu menghiasi dirrect messages Bung?


Saat Langit Masih Hitam Bung Sudah Berjuang, Ketika Pulang pun Langit Sudah Kembali Berwarna Sama


 Memang begitulah Bung yang namanya bekerja Peliknya Bekerja 8 Jam Sampai Lembur, Hingga Kerap Membuat Kehidupan Tergusur


Beginilah resiko mempunyai kantor yang letaknya di sentra kota. Menyikapi kemudian lintas hanya dengan berdiri lebih pagi. Saat berangkat kerja, iseng melirik ke arloji dan ternyata masih setengah 6 pagi. Pantas matahari belum muncul barang sebiji. Bekerja memang penuh usaha sejak membuka mata dari tidur ya, Bung?  Maklum sentra kota yang selalu dihiasi dengan kantor berpendapatan tinggi, menciptakan Bung jadi terpengaruhi untuk menantang diri. Padahal rasa “sakit” yang diterima kadang tidak seberapa dari apa yang Bung terima, yang mana ego, emosi, ide, dan tenaga keluar tanpa henti.


Kangen Liburan, Mau Mengajukan Cuti Selalu Ditolak Atasan


 Memang begitulah Bung yang namanya bekerja Peliknya Bekerja 8 Jam Sampai Lembur, Hingga Kerap Membuat Kehidupan Tergusur


Apa sih yang dijadikan obat ketika stress bekerja, Bung? Sepertinya sih liburan. Melakukan perjalanan sanggup menciptakan “nyawa” ibarat terlahir kembali. Hal ini sangat berkhasiat ketika mengalami stres sebab pekerjaan. Klise ya, Bung? Tapi memang nyatanya ibarat itu. Di ketika tanggal sudah pas, dan destinasi sudah dipilih, tetapi cuti tak selalu disetujui atasan. Tuntutan pekerjaan yang masih dalam kondisi genting, nampaknya tak sanggup ditinggalkan. Alhasil liburan hanya sekedar angan-angan.


Status Pun Masih Sendiri, Hingga Membuat Bung Kurang Motivasi


 Memang begitulah Bung yang namanya bekerja Peliknya Bekerja 8 Jam Sampai Lembur, Hingga Kerap Membuat Kehidupan Tergusur


Terlalu sibuk dalam bekerja sanggup jadi suatu alasan kenapa Bung tidak mendapat pendamping hati. Saat lembur terjadi, rekan-rekan lain menelepon si nona guna merehatkan suasana dan menyebarkan keluh kesahnya. Kerjaan Bung hanyalah melihat timeline Instagram dengan ibu jari yang sibuk bergerak dari bawah ke atas.


Saat rekan bung tertawa dengan pasangannya ketika berbicara hal yang lucu. Bung pun tertawa, tetapi sebab melihat konten yang lucu. Serupa tapi tak sama. Ketika rekan Bung mengucapkan “selamat tidur” mukanya pun cerah kolam matahari di pegunungan yang sedang indah-indahnya. Sedangkan Bung masih tampak lesu karena konten lucu tak kunjung membantu. Kalau dibandingkan, rekan Bung lebih bersemangat kerjanya selepas menelepon dibanding Bung mencoba menghibur lewat instagram, lekaslah cari pendamping Bung jangan menyia-nyiakan waktu.


Daftar Penyakit Menjadi Rekan Akrab Secara Pribadi


 Memang begitulah Bung yang namanya bekerja Peliknya Bekerja 8 Jam Sampai Lembur, Hingga Kerap Membuat Kehidupan Tergusur


Maag, pusing, atau mual sudah bukan tanda-tanda yang harus menciptakan Bung kaget. Bahkan Bung sendiri tak heran bila pada jam setengah 9 malam, ketika mata sudah setengah ngantuk, namun maag kambuh. Atau di pagi harinya kepala terasa pusing. Saat kebanyakan orang meminum cokelat di pagi hari, Bung malah mencari obat. Sampai-sampai klinik 24 jam di erat rumah Bung, sudah tahu nama dan tanda-tanda Bung sebab sering mampir setiap bulan. Ya beginilah pekerjaan, terkadang ingin makan pun enggan bila kiprah belum selesai. Ketika selesai bukannya makan, malah ada lagi yang lainnya.


Lingkungan Sosial Rasanya Berantakan, Apakah Ini Efek Pekerjaan?


 Memang begitulah Bung yang namanya bekerja Peliknya Bekerja 8 Jam Sampai Lembur, Hingga Kerap Membuat Kehidupan Tergusur


Tak pertemanan ataupun persaudaraan, rasanya mulai berbeda. Ketika tamat pekan ada program kumpul keluarga misalnya, banyak hal yang Bung tidak tahu dan ketinggalan berita. Sehingga menjadi terasingkan di perkumpulan sedarah sendiri. Tak jauh berbeda dengan pertemanan, aneka macam hal yang terlewatkan. Ketika Bung bertanya, “Memangnya selama ini ada apa saja?” Teman dan suadaramu hanya sanggup berkata “Lah, lo kemana aja!”


Penting atau tidak berita-berita di lingkup sosial Bung memang relatif. Tetapi suasana bakal menjadi bau bila hanya Bung sendiri yang tidak sanggup berbaur dengan cerita-cerita ibarat tadi.